BAB I
PENDAHULUAN
Jalan merupakan salah satu
prasarana transportasi darat yang berfungsi untuk melayani pergerakan manusia
dan barang. Jalan dikatakan baik jika direncanakan sedemikian rupa sehingga
unsur keselamatan dan kenyamanan pemakai jalan dapat terjamin dengan baik .
Setiap daerah memiliki kondisi wilayah dan karakteristik masing-masing yang
dapat membedakan kebutuhan pembangunan jalan antara daerah yang satu dengan
daerah yang lain. Oleh sebab itu setiap akan melakukan pembangunan jalan perlu
terlebih dahulu dilakukan studi yang berkaitan dengan rencana pembangunan jalan
serta memperhatikan dasar-dasar pertimbangan yang mempengaruhi perencanaan
jalan agar dapat mengantisipasi dampak yang timbul akibat adanya pembangunan
jalan. Adapun beberapa hal yang menjadi dasar pertimbangan perencanaan jalan,
yaitu :
1.
Klasifikasi Jalan
2.
Karateristik Lalu Lintas
3.
Karakteristik Jalan
4. Dampak
Lingkungan
5. Ekonomi
6.
Keselamatan Lalu Lintas
Klasifikasi jalan
fungsional di Indonesia berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku
adalah:
Jalan
arteri, merupakan jalan umum yang berfungsi melayani [angkutan]] utama dengan
ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata
tinggi, dan jumlah jalan masuk (akses) dibatasi secara berdaya guna.
Jalan
kolektor, merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul atau
pembagi dengan ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang, dan
jumlah jalan masuk dibatasi.
Jalan
lokal, merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat dengan
ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk
tidak dibatasi.
Jalan
lingkungan, merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan lingkungan
dengan ciri perjalanan jarak dekat, dan kecepatan rata-rata rendah.
Pengaliran/ drainase air merupakan
salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam pembangunan jalan. Air yang
berkumpul di permukaan jalan setelah hujan tidak hanya membahayakan pengguna
jalan, malahan akan mengikis dan merusakkan struktur jalan. Karena itu
permukaan jalan sebenarnya tidak betul-betul rata, sebaliknya mempunyai
landaian yang berarah ke selokan di pinggir jalan. Dengan demikian, air hujan
akan mengalir kembali ke selokan.
Setelah itu retroflektor dipasang di
tempat-tempat yang berbahaya seperti belokan yang tajam. Di permukaan jalan
mungkin juga akan diletakkan "mata kucing", yakni sejenis benda
bersinar seperti batu yang "ditanamkan" di permukaan jalan. Fungsinya
adalah untuk menandakan batas lintasan.
I.2 Agregrat
a. Agregrat Halus
Agregat
Halus merupakan bahan pengisi diantara agregat kasar sehingga menjadikan ikatan
lebih kuat yang mempunyai Bj 1400 kg/m. Agregat halus yang baik tidak
mengandung lumpur lebih besar 5 % dari berat, tidak mengandung bahan organis
lebih banyak, terdiri dari butiran yang tajam dan keras, dan bervariasi.
Berdasarkan SNI 03-6820-2002, agregat halus adalah
agregat besar butir maksimum 4,76 mm berasal dari alam atau hasil alam,
sedangkan agregat halus olahan adalah agregat halus yang dihasilkan dari
pecahan dan pemisahan butiran dengan cara penyaringan atau cara lainnya dari
batuan atau terak tanur tinggi.
Berdasarkan ASTM C33 agregat halus umumnya berupa
pasir dengan partikel butir lebih kecil dari 5 mm atau lolos saringan No.4 dan
tertahan pada saringan No.200.
Tabel 2.2.1 Batasan gradasi untuk agregat halus
Sumber : ASTM C-33
|
Ukuran Saringan
ASTM |
Persentase berat
yang lolos pada tiap saringan |
|
9,5 mm |
100 |
|
4,76 mm |
95 – 100 |
|
2,36 mm |
80 – 100 |
|
1,19 mm |
50 – 85 |
|
0,595 mm |
25 – 60 |
|
0,300 mm |
10 – 30 |
|
0,150 mm |
2 – 10 |
b. Agregrat Kasar
Menurut
SNI 1970-2008, agregat kasar adalah kerikil sebagai hasil disintegrasi alami
dari batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari industri pemecah batu
dan mempunyai ukuran butir antara 4,75 mm (No.4) sampai 40 mm (No. 1½ inci).
Berdasarkan ASTM C33 Agregat kasar terdiri dari kerikil atau batu pecah
dengan partikel butir lebih besar dari 5 mm atau antara 9,5 mm dan 37,5 mm.
Tabel
2.2 Batas-batas gradasi agregat kasar untuk maksimal nominal 19 mm
|
Ukuran ayakan (mm) |
Pemisahan ukuran |
|
Persen (%) berat yang lewat masing-masing ayakan |
|
|
25 |
100 |
|
19 |
90 – 100 |
|
9,5 |
20 – 55 |
|
4,75 |
0 – 10 |
|
2,36 |
0 – 5 |
Sumber :
SNI 7656-2012

I.3 Aspal
Material
berwarna hitam atau coklat tua. Pada temperatur ruang berbentuk padat sampai
agak padat, jika dianaskan sampai temperatur tentu dapat menjadi lunak / cair
sehingga dapat membungkus partikel agregat pada waktu pembuatan campuran aspal
beton atau sapat masuk kedalam pori-pori yang ada pada penyemprotan/ penyiraman
pada perkerasan macadam atau pelaburan. Jika temperatur mulai turun. Aspal akan
mengeras dan mengikat agregat pada tempatnya (sifat Termoplastis).
- Hidrocarbon
adalah bahan dasar utama dari aspal yang umumnya disebut bitumen. Sehingga
aspal sering juga disebut bitumen,
- Aspal
merupakan salah satu material konstruksi perkerasan lentur . Aspal
merupakan komponen kecil . Umumnya 4 – 10 % dari berat campuran. Tetapi
merupakan komponen yang relatif mahal
- Aspal
umumnya berasal dari salah satu hasil destilasi minyak bumi (Aspal Minyak)
dan bahan alami (aspal Alam),
- Aspal
minyak (Aspal cemen) bersifat mengikat agregat pada campuran aspal beton
dan memberikan lapisan kedap air. Serta tahan terhadap pengaruh asam, Basa
dan garam,
- Sifat
aspal akan berubah akibat panas dan umur, aspal akan menjadi kaku dan
rapuh dan akhirnya daya adhesinya terhadap partikal agregat akan
berkurang.
a. Jenis-jenis Aspal
Aspal
Alam :- Aspal Gunung (Rock Asphalt)
ex : Aspal P. Buton
- Aspal Danau (Lake Asphalt)
ex : Aspal Bermudez, Trinidad
Aspal alam ada yang diperoleh di gunung-gunung seperti aspal di pulau buton,
dan ada pula yang diperoleh di pulau Trinidad berupa aspal danau. Aspal alam
terbesar di dunia terdapat di Trinidad, berupa aspal danau. Indonesia memiliki
aspal alam yaitu di Pulau Buton, yang terkenal dengan nama Asbuton (Aspal Pulau
Buton). Penggunaan asbuton sebagai salah satu material perkerasan jalan telah
dimulai sejak tahun 1920, walaupun masih bersifat konvensional. Asbuton
merupakan batu yang mengandung aspal. Asbuton merupakan material yang ditemukan
begitu saja di alam, maka kadar bitumen yang dikandungnya sangat bervariasi
dari rendah sampai tinggi.
Produk asbuton dapat dibagi menjadi dua kelompok
yaitu :1) Produk asbuton yang masih mengandung material filler, seperti asbuton
kasar,asbuton halus,asbuton mikro, dan butonite mastik asphalt.2) Produk
asbuton yang telah dimurnikan menjadi aspal murni melalui proses ekstrasi atau
proses kimiawi
Aspal Buatan :Aspal Minyak
Merupakan hasil destilasio minyak bumi
Berdasarkan jenis bahan dasarnya
·
Asphaltic base crude oil
·
Bahan dasar dominan aspaltic
·
Parafin base crude oil
·
Bahan dasar dominan parafin
·
Mixed base crude oil
·
Bahan dasar campuran asphaltic dan parafin
Berdasarkan bentuknya
·
Aspal keras/panas (Asphalt cemen)
aspal yang
digunakan dalam keadaan panas dan cair, pada suhu ruang berbentuk padat
*) Aspal keras pada suhu ruang (250 – 300 C)
berbentuk padat
*) Aspal keras dibedakan berdasarkan nilai
penetrasi (tingkat kekerasannya)
*) Aspal keras yang biasa digunakan :
- AC Pen 40/50, yaitu
aspal keras dgn penetrasi antara 40 – 50
- AC pen 60/70, yaitu
aspal keras dgn penetrasi antara 60 – 79
- AC pen 80/100, yaitu
aspal keras dengan penetrasi antara 80 – 100
- AC pen 200/300, yaitu
aspal keras dengan penetrasi antara 200-300
*) Aspal dengan penetrasi rendah digunakan di
daerah bercuaca panas, volume lalu lintas tinggi.
*) Aspal dengan penetrasi tinggi digunakan untuk
daerah bercuaca dingin, lalu lintas rendah.
*) Di Indonesia umumnya digunakan aspal penetrasi
60/70 dan 80/100.
·
Aspal dingin / Cair (Cut Back Asphalt)
aspal yang
digunakan dalam keadaan dingin dan cair, pada suhu ruang berbentuk cair
*) Aspal cair merupakan campuran aspal keras
dengan bahan pencair dari hasil penyulingan minyak bumi
*) Pada suhu ruang berbentuk cair
*) Berdasarkan bahan pencairnya dan kemudahan
penguapan bahan pelarutnya, aspal cair dibedakan atas :
1. RC (Rapid curing cut back )
Merupakan aspal keras yang dilarutkan dengan
bensin (premium), RC
merupakan curback asphal yang paling cepat
menguap.
RC cut back asphalt dugunakan sebagai:
- Tack coat (Lapis perekat)
- Prime Coat (Lapis resap pengikat)
2. MC (Medium Curing cut back)
Merupakan aspal keras yang dilarutkan dengan
minyak tanah (Kerosine). MC merupakan cutback aspal yang kecepatan
menguapnya sedang.
3. SC (Slow Curing cut back)
Merupakan aspal keras yang dilarutkan dengan
solar, SC merupakan cut back asphal yang paling lama menguap.
SC Cut back asphalt digunakan sebagai:
- Prime coat
- Dust laying (lapis pengikat debu)
Cut back aspal dibedakan berdasarkan nilai
viscositas pada suhu 600 (makin kental)
ex :
RC 30 –
60 MC
30 –
60
SC 30 – 60
RC 70 –
140 MC 70 –
140
SC 70 - 140
·
Aspal emulsi (emulsion asphalt)
aspal yang
disediakan dalam bentuk emulsi dandigunakan dalam kondisi dingin dan cair
*) Aspal emulsi adlah suatu campuran aspal
dengan air dan bahan pengemulsi
*) Emulsifer
agent merupakan ion bermuatan listrik (Elektrolit), (+) Cation ; (-) Annion
*) Emulsifer agent berfungsi sebagai
stabilisator
*) Partikel aspal melayang-layang dalam air
karena partikel aspal diberi muatan listrik.
*) Berdasarkan
muatan listriknya, aspal emulsi dapat dibedakan atas ;
1. Kationik,
disebut juga aspal emulsi asam, merupakan aspal
emulsi yang bermuatan arus listrik posirif
2. Anionik,
disebut juga aspal emulsi alkali, merupakan
aspal emulsi yang bermuatan negatif
3. Nonionik,
merupakan aspal emulsi yang tidak mengalami
ionisasi, berarti tidak
mengantarkan listrik.
*) Yang umum digunakan sebagai bahan perkerasan
jalan adalah aspal emulsi anionik dan kationik.
*) Berdasarkan kecepatan pengerasannya aspal
emulsi dibedakan atas
- Rapid Setting (RS), aspal yang mengandung
sedikit bahan pengemulsi sehingga pengikatan cepat terjadi. Digunakan
untuk
Tack Coat
- Medium Setting (MS), Digunakan untuk Seal Coat
- Slow Seeting (SS), jenis aspal emulsi yang
paling lambat menguap, Digunakan Sebagai Prime coat
·
Aspal Buton
Aspal buton merupakan aspal alam
yang berasal dari pulau buton, Indonesia.
Aspal ini merupakan campuran antara bitumen
dengan bahan mineral lainnya dalam bentuk bantuan.
Karena aspal buton merupakan bahan alam maka
kadar bitumennya bervariasi dari rendah sampai tinggi.
Berdasarkan kadar bitumennya aspal buton
dibedakan atas B10, B13, B20, B25, dan B30 (Aspal Buotn B10 adalah aspal
buton dengan kadar bitumen rata-rata 10%)
BAB II
DASAR TEORI
2.1 Lapisan Pekerjaan Jalan
Berdasarkan
bahan ikat, lapisan pekerasan jalan ada dua kategori :
2.1.1
Perkerasan Lentur (Flexible Pavement)
adalah struktur
perkerasan yang sangat banyak digunakan
dibandingkan dengan struktur perkerasan kaku. Struktur perkerasan lentur dikonstruksi baik untuk konstruksi
jalan, maupun untuk konstruksi landasan
pacu. Tujuan struktur perkerasan adalah:
·
agar di atas struktur perkerasan itu dapat lalui setiap saat.
Oleh karena itu lapis permukaan perkerasan harus kedap air -
melindungi lapis tanah dasar sehingga kadar air lapis tanah dasar
tidak mudah berubah.
· mendistribusikan
beban terpusat, sehingga tekanan yang terjadi pada lapis tanah dasar menjadi
lebih kecil. Oleh karena itu lapis struktur perkerasan harus dibuat dengan
sifat modulus kekakuan (modulus elastisitas) lapis di atas lebih
besar daripada lapis di bawahnya.
· menyediaan kekesatan
agar aman. Oleh karena itu permukaan perkerasan harus kasar, sehingga
mempunyai koefisien gesek yang besar antara roda dan permukaan
perkerasan.
· menyediaan kerataan
agar nyaman. Oleh karena itu permukaan harus rata, sehingga pengguna tidak
terguncang pada saat lewat pada perkerasan.
Pada umumnya, perkerasan jalan lentur terdiri
dari beberapa jenis lapisan perkerasan yang tersusun dari bawah ke atas,sebagai
berikut :
1.
Lapisan Tanah Dasar (Subgrade)
Lapisan tanah dasar adalah bagian terbawah dari perkerasan jalan raya. Apabila
kondisi tanah pada lokasi pembangunan jalan mempunyai spesifikasi yang
direncanakan makan tanah tersebut akan langsung dipadatkan dan digunakan.
Tebalnya berkisar antara 50 – 100 cm. Fungsi utamanya adalah sebagai tempat
perletakan jalan raya.
Lapisan tanah
dasar adalah lapisan tanah yang berfungsi sebagai tempat perletakan lapis
perkerasan dan mendukung konstruksi perkerasan jalan diatasnya. Menurut
Spesifikasi, tanah dasar adalah lapisan paling atas dari timbunan badan jalan
setebal 30 cm, yang mempunyai persyaratan tertentu sesuai fungsinya, yaitu yang
berkenaan dengan kepadatan dan daya dukungnya (CBR).
Lapisan tanah dasar
dapat berupa tanah asli yang dipadatkan jika tanah aslinya baik, atau tanah
urugan yang didatangkan dari tempat lain atau tanah yang distabilisasi dan lain
- lain.
Ditinjau dari muka tanah
asli, maka lapisan tanah dasar dibedakan atas :
· Lapisan
tanah dasar, tanah galian.
· Lapisan
tanah dasar, tanah urugan.
· Lapisan
tanah dasar, tanah asli.
Kekuatan dan keawetan konstruksi perkerasan jalan
sangat tergantung dari sifat-sifat dan daya dukung tanah dasar.
Umumnya persoalan yang menyangkut tanah dasar adalah
sebagai berikut :
· Perubahan
bentuk tetap (deformasi permanen) akibat beban lalu lintas.
· Sifat
mengembang dan menyusutnya tanah akibat perubahan kadar air.
· Daya
dukung tanah yang tidak merata akibat adanya perbedaan sifat-sifat tanah pada
lokasi yang berdekatan atau akibat kesalahan pelaksanaan misalnya kepadatan
yang kurang baik.
·
Lapisan Tanah dasar (Subgrade)
2. Lapisan Pondasi Bawah
(Subbase Course)
Lapisan ini berada dibawah lapisan pondasi atas dan diatas lapisan tanah dasar.
Lapisan ini berfungsi untuk menyebarkan beban dari lapisan pondasi bawah ke
lapisan tanah dasar, untuk menghemat penggunaan material yang digunakan pada
lapisan pondasi atas, karena biasanya menggunakan material yang lebih murah.
Selain itu lapisan pondasi bawah juga berfungsi untuk mencegah partikel halus
masuk kedalam material perkerasan jalan dan melindungi air agar tidak masuk
kelapisan dibawahnya.
Lapis pondasi bawah ini berfungsi sebagai :
· Bagian
dari konstruksi perkerasan untuk menyebarkan beban roda ke tanah dasar.
· Lapis
peresapan, agar air tanah tidak berkumpul di pondasi.
· Lapisan
untuk mencegah partikel-partikel halus dari tanah dasar naik ke lapis pondasi
atas.
· Lapis
pelindung lapisan tanah dasar dari beban roda-roda alat berat (akibat lemahnya
daya dukung tanah dasar) pada awal-awal pelaksanaan pekerjaan.
· Lapis
pelindung lapisan tanah dasar dari pengaruh cuaca terutama hujan.
Jenis lapis pondasi bawah yang umum dipergunakan di
Indonesia antara lain:
1. Agregat
bergradasi baik dapat dibagi:
- Sirtu
/ pitrun kelas A
- Sirtu
/ pitrun kelas B
- Sirtu
/ pitrun kelas C
2. Stabilitas
- Stabilitas
agregat dengan semen
- Stabilitas
agregat dengan kapur
- Stabilitas
tanah dengan semen
- Stabilitas
tanah dengan kapur.
3. Lapisan pondasi atas
(base course)
Lapisan ini terletak dilapisan dibawah lapisan permukaan. Lapisan ini terutama
berfungsi untuk menahan gaya lintang akibat beban roda dan menerus beban ke
lapisan dibawahnya, sebagai bantalan untuk lapisan permukaan dan lapisan
peresapan untuk lapisan pondasi bawah. Material yang digunakan untuk lapisan
ini diharus material dengan kualitas yang tinggi sehingga kuat menahan beban yang
direncanakan.
Lapisan pondasi atas ini berfungsi sebagai :
· Bagian
perkerasan yang menahan gaya lintang dari beban roda dan menyebarkan beban ke lapisan
di bawahnya.
· Bantalan
terhadap lapisan permukaan.
Bahan-bahan untuk lapis pondasi atas
ini harus cukup kuat dan awet sehingga dapat menahan beban-beban roda.
Dalam penentuan bahan lapis
pondasi ini perlu dipertimbangkan beberapa hal antara lain, kecukupan bahan
setempat, harga, volume pekerjaan dan jarak angkut bahan ke lapangan.
Jenis lapis pondasi atas yang umum dipergunakan di
Indonesia antara lain:
1. Agregat
bergradasi baik dapat dibagi:
- Batu pecah kelas A
- Batu pecah kelas B
- Batu pecah kelas C
2. Pondasi
Macadam
3. Pondasi
Telford
4. Penetrasi
Macadam (Lapen)
5. Aspal
buton pondasi (Asphalt Concrete Base / Asphalt Treated Base)
6. Stabilitas
terdiri atas :
- Stabilitas agregat
dengan semen
- Stabilitas agregat
dengan kapur
- Stabilitas agregat
dengan aspal
4. Lapisan Permukaan
(Surface Course)
Lapisan permukaan terletak paling atas pada suatu jalan raya. Lapisan yang
biasanya kita pijak, atau lapisan yang bersentuhan langsung dengan ban
kendaraan. Lapisan ini berfungsi sebagai penahan beban roda. Lapisan ini
memiliki stabilitas yang tinggi, kedap air untuk melindungi lapisan dibawahnya
sehingga air mengalir ke saluran di samping jalan, tahan terhadap keausan
akibat gesekan rem kendaraan, dan diperuntukkan untuk meneruskan beban kendaraan
ke lapisan dibawahnya.
Lapisan permukaan ini berfungsi sebagai :
· Lapisan yang langsung
menahan akibat beban roda kendaraan.
· Lapisan yang langsung
menahan gesekan akibat rem kendaraan (lapisaus).
· Lapisan yang mencegah air hujan
yang jatuh di atasnya tidak meresap ke lapisan bawahnya dan melemahkan lapisan tersebut.
· Lapisan yang
menyebarkan beban ke lapisan bawah, sehingga dapat dipikul oleh lapisan di
bawahnya.
Apabila diperlukan, dapat juga dipasang suatu lapis penutup / lapis aus
(wearing course) di atas lapis permukaan tersebut.
Fungsi lapis aus ini adalah sebagai lapisan pelindung bagi lapis permukaan
untuk mencegah masuknya air dan untuk memberikankekesatan (skid resistance)
permukaan jalan. Apis aus tidak diperhitungkan ikut memikul beban lalu lintas.
Jenis lapis yang digunakan di Indonesia antara lain :
Lapisan
bersifat nonstructural, yang berfungsi sebagai lapisan aus dan kedap air antara
lain:
b. Burtu (laburan aspal satu lapis),
merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal yang ditaburi dengan satu lapis agregat
bergradasi seragam, dengan tebal maksimum 2 cm
c. Burda (laburan aspal dua lapis),
merupakan lapis penutup yang terdiri lapisan aspal ditaburi agregat yang dilakukan dua kali
berturut – turutdengan tebal maksimum3,5 cm
d. Latsir (Lapis Tipis Aspal
Pasir), merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapis aspal dan pasir alam bergradasi menerus dicampur,
dihampar dan dipadatkan pada suhu pada suhu tertentudengan tebal padat 1- 2 cm
e. Buras (Laburan Aspal),
merupakan lapisan penutup terdiri dari lapisan aspal taburan pasir dengan
ukuran butir maksimum 3/8 inch
f. Latasbum (Lapis tipis asbuton
murni), merupakan lapisan penutup yang terdiri dari campuran asbuton dan bahan
pelunak dengan perbandingan tertentu yang dicampur secara dingin dengan tebal
padat maksimum 1 cm
g. Lataston (lapis
tipis aspal beton), dikenal dengan nama hot roll sheet (HRS).
Lapisan
bersifat struktur, berfungsi sebagai lapisan yang menahan & menyebarkan
beban roda
a. Penetrasi
Macadam ( lapen)
b. Lasbutag
c. Laston
2. Rigid
pavement (Perkerasan Kaku)
Perkerasan kakau/rigit adalah perkerasan yang menggunakan bahan ikat aspal,
yang sifatnya kaku. Perkerasan kaku berupa plat beton dengan atau tanpa
tulangan diatas tanah dasar dengan atau tanpa pondasi bawah. Beban lalu lintas
diteruskan keatas plat beton. Perkerasan kaku bisa dikelompokkan atas:
1. Perkerasan
kaku semen yang terbuat dari beton semen baik yang bertulang ataupun
tanpa tulangan
2. Perkerasan
kaku komposit yang terbuat dari komposit sehingga lebih kuat dari
perkerasan semen, sehingga baik untuk digunakan pada landasan pesawat
udara di Bandara.
Perkerasan jalan beton semen atau secara umum disebut perkerasan kaku, terdiri
atas plat (slab) beton semen sebagai lapis pondasi dan lapis pondasi bawah
(bisa juga tidak ada) di atas tanah dasar. Dalam konstruksi perkerasan kaku,
plat beton sering disebut sebagai lapis pondasi karena dimungkinkan masih
adanya lapisan aspal beton di atasnya yang berfungsi sebagai lapis permukaan.
Perkerasan beton yang kaku dan memiliki modulus elastisitas yang tinggi, akan
mendistribusikan beban ke bidang tanah dasar yang cukup luas sehingga bagian
terbesar dari kapasitas struktur perkerasan diperoleh dari plat beton sendiri.
Hal ini berbeda dengan perkerasan lentur dimana kekuatan perkerasan diperoleh
dari tebal lapis pondasi bawah, lapis pondasi dan lapis permukaan.
Karena yang paling penting adalah mengetahui kapasitas struktur yang menanggung
beban, maka faktor yang paling diperhatikan dalam perencanaan tebal perkerasan
beton semen adalah kekuatan beton itu sendiri. Adanya beragam kekuatan dari
tanah dasar dan atau pondasi hanya berpengaruh kecil terhadap kapasitas
struktural perkerasannya.
Lapis pondasi bawah jika digunakan di bawah plat beton karena beberapa
pertimbangan, yaitu antara lain untuk menghindari terjadinya pumping, kendali
terhadap sistem drainasi, kendali terhadap kembang-susut yang terjadi pada
tanah dasar dan untuk menyediakan lantai kerja (working platform) untuk
pekerjaan konstruksi.
Secara lebih spesifik,
fungsi dari lapis pondasi bawah adalah :
· Menyediakan lapisan yang
seragam, stabil dan permanen.
· Menaikkan harga modulus
reaksi tanah dasar (modulus of sub-grade reaction = k), menjadi modulus reaksi
gabungan (modulus of composite reaction).
· Mengurangi
kemungkinan terjadinya retak-retak pada plat beton.
· Menyediakan
lantai kerja bagi alat-alat berat selama masa konstruksi.
· Menghindari terjadinya
pumping, yaitu keluarnya butir-butiran halus tanah bersama air pada daerah
sambungan, retakan atau pada bagian pinggir perkerasan, akibat lendutan atau
gerakan vertikal plat beton karena beban lalu lintas, setelah adanya air bebas
terakumulasi di bawah pelat.
Pemilihan penggunaan jenis perkerasan kaku dibandingkan dengan perkerasan lentur yang sudah lama dikenal dan lebih sering digunakan, dilakukan berdasarkan keuntungan dan kerugian masing-masing jenis perkerasan tersebut.
Dokumentasi









Comments
Post a Comment