Skip to main content

laporan praktik batu politeknik negeri malang

  KATA PENGANTAR   Puji syukur kami panjatkan kehadihat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya, Sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktikum ini dengan sebaik-baiknya. Penulisan Laporan Praktikum ini merupakan salah satu Persyaratan dalam praktikum mata kuliah Pekerjaan Batu, d alam Penulisan Laporan ini Penulis merasa masih banyak kekurangan -kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi yang di sajikan. Untuk itu Penulis mengharapkan adanya kritik dan saran dari semua pihak agar Penulis dapat lebih sempurna dalam membuat Laporan ini. Semoga Laporan yang Penulis susun ini dapat bermanfaat bagi kita semua .Amin.                      Malang , 06 Juni 201 8    Penulis,         BAGUS PRASETYA           DAFTAR ISI Lembar Pengesahan ........................

Laporan Praktikum Pekerjaan Jalan Politeknik Negeri Malang

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

     Jalan merupakan salah satu prasarana transportasi darat yang berfungsi untuk melayani pergerakan manusia dan barang. Jalan dikatakan baik jika direncanakan sedemikian rupa sehingga unsur keselamatan dan kenyamanan pemakai jalan dapat terjamin dengan baik . Setiap daerah memiliki kondisi wilayah dan karakteristik masing-masing yang dapat membedakan kebutuhan pembangunan jalan antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Oleh sebab itu setiap akan melakukan pembangunan jalan perlu terlebih dahulu dilakukan studi yang berkaitan dengan rencana pembangunan jalan serta memperhatikan dasar-dasar pertimbangan yang mempengaruhi perencanaan jalan agar dapat mengantisipasi dampak yang timbul akibat adanya pembangunan jalan. Adapun beberapa hal yang menjadi dasar pertimbangan perencanaan jalan, yaitu :

1. Klasifikasi Jalan

2. Karateristik Lalu Lintas

3. Karakteristik Jalan

4. Dampak Lingkungan

5. Ekonomi

6. Keselamatan Lalu Lintas

Klasifikasi jalan fungsional di Indonesia berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku adalah:

      Jalan arteri, merupakan jalan umum yang berfungsi melayani [angkutan]] utama dengan ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk (akses) dibatasi secara berdaya guna.

Jalan kolektor, merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul atau pembagi dengan ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang, dan jumlah jalan masuk dibatasi.

Jalan lokal, merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat dengan ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi.

Jalan lingkungan, merupakan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan lingkungan dengan ciri perjalanan jarak dekat, dan kecepatan rata-rata rendah.

 

       Pengaliran/ drainase air merupakan salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam pembangunan jalan. Air yang berkumpul di permukaan jalan setelah hujan tidak hanya membahayakan pengguna jalan, malahan akan mengikis dan merusakkan struktur jalan. Karena itu permukaan jalan sebenarnya tidak betul-betul rata, sebaliknya mempunyai landaian yang berarah ke selokan di pinggir jalan. Dengan demikian, air hujan akan mengalir kembali ke selokan.

Setelah itu retroflektor dipasang di tempat-tempat yang berbahaya seperti belokan yang tajam. Di permukaan jalan mungkin juga akan diletakkan "mata kucing", yakni sejenis benda bersinar seperti batu yang "ditanamkan" di permukaan jalan. Fungsinya adalah untuk menandakan batas lintasan.


I.2 Agregrat

a. Agregrat Halus

    Agregat Halus merupakan bahan pengisi diantara agregat kasar sehingga menjadikan ikatan lebih kuat yang mempunyai Bj 1400 kg/m. Agregat halus yang baik tidak mengandung lumpur lebih besar 5 % dari berat, tidak mengandung bahan organis lebih banyak, terdiri dari butiran yang tajam dan keras, dan bervariasi.

    Berdasarkan SNI 03-6820-2002, agregat halus adalah agregat besar butir maksimum 4,76 mm berasal dari alam atau hasil alam, sedangkan agregat halus olahan adalah agregat halus yang dihasilkan dari pecahan dan pemisahan butiran dengan cara penyaringan atau cara lainnya dari batuan atau terak tanur tinggi.

    Berdasarkan ASTM C33 agregat halus umumnya berupa pasir dengan partikel butir lebih kecil dari 5 mm atau lolos saringan No.4 dan tertahan pada saringan No.200.

 

Tabel 2.2.1 Batasan gradasi untuk agregat halus

Sumber : ASTM C-33

Ukuran Saringan ASTM

Persentase berat yang lolos pada tiap saringan

9,5 mm

100

4,76 mm

95 – 100

2,36 mm

80 – 100

1,19 mm

50 – 85

0,595 mm

25 – 60

0,300 mm

10 – 30

0,150 mm

2 – 10

 

 

 

 

 

 

b. Agregrat Kasar

    Menurut SNI 1970-2008, agregat kasar adalah kerikil sebagai hasil disintegrasi alami dari batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari industri pemecah batu dan mempunyai ukuran butir antara 4,75 mm (No.4) sampai 40 mm (No. 1½ inci).

Berdasarkan ASTM C33 Agregat kasar terdiri dari kerikil atau batu pecah dengan partikel butir lebih besar dari 5 mm atau antara 9,5 mm dan 37,5 mm.

 

Tabel 2.2 Batas-batas gradasi agregat kasar untuk maksimal nominal 19 mm

Ukuran ayakan (mm)

Pemisahan ukuran

Persen (%) berat

yang lewat masing-masing ayakan

25

100

19

90 – 100

9,5

20 – 55

4,75

0 – 10

2,36

0 – 5

Sumber : SNI 7656-2012

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                                  

I.3 Aspal 

Material berwarna hitam atau coklat tua. Pada temperatur ruang berbentuk padat sampai agak padat, jika dianaskan sampai temperatur tentu dapat menjadi lunak / cair sehingga dapat membungkus partikel agregat pada waktu pembuatan campuran aspal beton atau sapat masuk kedalam pori-pori yang ada pada penyemprotan/ penyiraman pada perkerasan macadam atau pelaburan. Jika temperatur mulai turun. Aspal akan mengeras dan mengikat agregat pada tempatnya (sifat Termoplastis).

  • Hidrocarbon adalah bahan dasar utama dari aspal yang umumnya disebut bitumen. Sehingga aspal sering juga disebut bitumen,
  • Aspal merupakan salah satu material konstruksi perkerasan lentur . Aspal merupakan komponen kecil . Umumnya 4 – 10 % dari berat campuran. Tetapi merupakan komponen yang relatif mahal
  • Aspal umumnya berasal dari salah satu hasil destilasi minyak bumi (Aspal Minyak) dan bahan alami (aspal Alam),
  • Aspal minyak (Aspal cemen) bersifat mengikat agregat pada campuran aspal beton dan memberikan lapisan kedap air. Serta tahan terhadap pengaruh asam, Basa dan garam,
  • Sifat aspal akan berubah akibat panas dan umur, aspal akan menjadi kaku dan rapuh dan akhirnya daya adhesinya terhadap partikal agregat akan berkurang.

  

a.    Jenis-jenis Aspal

Aspal Alam :- Aspal Gunung (Rock Asphalt)
ex : Aspal P. Buton
- Aspal Danau (Lake Asphalt)
ex : Aspal Bermudez, Trinidad

Aspal alam ada yang diperoleh di gunung-gunung seperti aspal di pulau buton, dan ada pula yang diperoleh di pulau Trinidad berupa aspal danau. Aspal alam terbesar di dunia terdapat di Trinidad, berupa aspal danau. Indonesia memiliki aspal alam yaitu di Pulau Buton, yang terkenal dengan nama Asbuton (Aspal Pulau Buton). Penggunaan asbuton sebagai salah satu material perkerasan jalan telah dimulai sejak tahun 1920, walaupun masih bersifat konvensional. Asbuton merupakan batu yang mengandung aspal. Asbuton merupakan material yang ditemukan begitu saja di alam, maka kadar bitumen yang dikandungnya sangat bervariasi dari rendah sampai tinggi. 

Produk asbuton dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu :1) Produk asbuton yang masih mengandung material filler, seperti asbuton kasar,asbuton halus,asbuton mikro, dan butonite mastik asphalt.2) Produk asbuton yang telah dimurnikan menjadi aspal murni melalui proses ekstrasi atau proses kimiawi

Aspal Buatan :Aspal Minyak
Merupakan hasil destilasio minyak bumi 

Berdasarkan jenis bahan dasarnya

·         Asphaltic base crude oil

·         Bahan dasar dominan aspaltic

·         Parafin base crude oil

·         Bahan dasar dominan parafin

·         Mixed base crude oil

·         Bahan dasar campuran asphaltic dan parafin

Berdasarkan bentuknya

·         Aspal keras/panas (Asphalt cemen)

aspal yang digunakan dalam keadaan panas dan cair, pada suhu ruang berbentuk padat
*) Aspal keras pada suhu ruang (250 – 300 C) berbentuk padat
*) Aspal keras dibedakan berdasarkan nilai penetrasi (tingkat kekerasannya)
*) Aspal keras yang biasa digunakan :
    -  AC Pen 40/50, yaitu aspal keras dgn penetrasi antara 40 – 50 
    -  AC pen 60/70, yaitu aspal keras dgn penetrasi antara 60 – 79
    -  AC pen 80/100, yaitu aspal keras dengan penetrasi antara 80 – 100
    -  AC pen 200/300, yaitu aspal keras dengan penetrasi antara 200-300
*) Aspal dengan penetrasi rendah digunakan di daerah bercuaca panas, volume lalu lintas tinggi.
*) Aspal dengan penetrasi tinggi digunakan untuk daerah bercuaca dingin, lalu lintas rendah.
*) Di Indonesia umumnya digunakan aspal penetrasi 60/70 dan 80/100.

·         Aspal dingin / Cair (Cut Back Asphalt)

aspal yang digunakan dalam keadaan dingin dan cair, pada suhu ruang berbentuk cair
*) Aspal cair merupakan campuran aspal keras dengan bahan pencair dari hasil penyulingan minyak bumi
*) Pada suhu ruang berbentuk cair 
*) Berdasarkan bahan pencairnya dan kemudahan penguapan bahan pelarutnya, aspal cair dibedakan atas :
1.  RC (Rapid curing cut back )
Merupakan aspal keras yang dilarutkan dengan bensin (premium), RC 
merupakan curback asphal  yang paling cepat menguap.        
RC cut back asphalt dugunakan sebagai:
- Tack coat (Lapis perekat)
- Prime Coat (Lapis resap pengikat)
2.  MC (Medium Curing cut back)
Merupakan aspal keras yang dilarutkan dengan minyak tanah  (Kerosine). MC merupakan cutback aspal yang kecepatan menguapnya sedang.
3.  SC (Slow Curing cut back)
Merupakan aspal keras yang dilarutkan dengan solar, SC merupakan cut back asphal yang paling lama menguap.
SC Cut back asphalt  digunakan sebagai:
- Prime  coat
- Dust laying (lapis pengikat debu)
Cut back aspal dibedakan berdasarkan nilai viscositas pada suhu 600 (makin kental)
ex :  
RC 30 – 60              MC 30 – 60                SC 30 – 60
RC 70 – 140            MC 70 – 140              SC 70 - 140

·         Aspal emulsi (emulsion asphalt)

aspal yang disediakan dalam bentuk emulsi dandigunakan dalam kondisi dingin dan cair
*) Aspal emulsi adlah suatu campuran aspal dengan air dan bahan pengemulsi

Jenis- Jenis Aspal

*) Emulsifer agent merupakan ion bermuatan listrik (Elektrolit), (+) Cation ; (-) Annion
*) Emulsifer agent berfungsi sebagai stabilisator
*) Partikel aspal melayang-layang dalam air karena partikel aspal diberi muatan listrik.

Jenis- Jenis Aspal

*) Berdasarkan muatan listriknya, aspal emulsi dapat dibedakan atas ;
1. Kationik,     
disebut juga aspal emulsi asam, merupakan aspal emulsi yang     bermuatan arus listrik posirif
2. Anionik, 
disebut juga aspal emulsi alkali, merupakan aspal emulsi yang     bermuatan negatif
3. Nonionik,
merupakan aspal emulsi yang tidak mengalami ionisasi, berarti        tidak     mengantarkan listrik.
*) Yang umum digunakan sebagai bahan perkerasan jalan adalah aspal emulsi anionik dan kationik.
*) Berdasarkan kecepatan pengerasannya aspal emulsi dibedakan atas 
- Rapid Setting (RS), aspal yang mengandung sedikit bahan   pengemulsi sehingga pengikatan cepat terjadi. Digunakan untuk  
Tack Coat
- Medium Setting (MS), Digunakan untuk Seal Coat
- Slow Seeting (SS), jenis aspal emulsi yang paling lambat menguap,    Digunakan Sebagai Prime coat

·         Aspal Buton

Aspal buton merupakan aspal alam yang berasal dari pulau buton, Indonesia.
Aspal ini merupakan campuran antara bitumen dengan bahan mineral lainnya dalam bentuk bantuan.
Karena aspal buton merupakan bahan alam maka kadar bitumennya bervariasi dari rendah sampai tinggi.
Berdasarkan kadar bitumennya aspal buton dibedakan atas  B10, B13, B20, B25, dan B30 (Aspal Buotn B10 adalah aspal buton dengan kadar bitumen rata-rata 10%)

 

 

BAB II

DASAR TEORI

 

 

2.1 Lapisan Pekerjaan Jalan

Berdasarkan bahan ikat, lapisan pekerasan jalan ada dua kategori :

2.1.1 Perkerasan Lentur (Flexible Pavement)

adalah struktur perkerasan yang sangat banyak digunakan dibandingkan dengan struktur perkerasan kaku. Struktur perkerasan lentur dikonstruksi baik untuk konstruksi jalan, maupun untuk konstruksi landasan pacu. Tujuan struktur perkerasan adalah:

·       agar di atas struktur perkerasan itu dapat lalui setiap saat. Oleh karena itu lapis permukaan perkerasan harus kedap air - melindungi lapis tanah dasar sehingga kadar air lapis tanah dasar tidak mudah berubah.

·       mendistribusikan beban terpusat, sehingga tekanan yang terjadi pada lapis tanah dasar menjadi lebih kecil. Oleh karena itu lapis struktur perkerasan harus dibuat dengan sifat modulus kekakuan (modulus elastisitas) lapis di atas lebih besar daripada lapis di bawahnya.

·       menyediaan kekesatan agar aman. Oleh karena itu permukaan perkerasan harus kasar, sehingga mempunyai koefisien gesek yang besar antara roda dan permukaan perkerasan.

·       menyediaan kerataan agar nyaman. Oleh karena itu permukaan harus rata, sehingga pengguna tidak terguncang pada saat lewat pada perkerasan.

 Pada umumnya, perkerasan jalan lentur terdiri dari beberapa jenis lapisan perkerasan yang tersusun dari bawah ke atas,sebagai berikut :

 

1.    Lapisan Tanah Dasar (Subgrade)

          Lapisan tanah dasar adalah bagian terbawah dari perkerasan jalan raya. Apabila kondisi tanah pada lokasi pembangunan jalan mempunyai spesifikasi yang direncanakan makan tanah tersebut akan langsung dipadatkan dan digunakan. Tebalnya berkisar antara 50 – 100 cm. Fungsi utamanya adalah sebagai tempat perletakan jalan raya.

       Lapisan tanah dasar adalah lapisan tanah yang berfungsi sebagai tempat perletakan lapis perkerasan dan mendukung konstruksi perkerasan jalan diatasnya. Menurut Spesifikasi, tanah dasar adalah lapisan paling atas dari timbunan badan jalan setebal 30 cm, yang mempunyai persyaratan tertentu sesuai fungsinya, yaitu yang berkenaan dengan kepadatan dan daya dukungnya (CBR).

     Lapisan tanah dasar dapat berupa tanah asli yang dipadatkan jika tanah aslinya baik, atau tanah urugan yang didatangkan dari tempat lain atau tanah yang distabilisasi dan lain - lain.

 Ditinjau dari muka tanah asli, maka lapisan tanah dasar dibedakan atas :

·        Lapisan tanah dasar, tanah galian.

·        Lapisan tanah dasar, tanah urugan.

·        Lapisan tanah dasar, tanah asli.

Kekuatan dan keawetan konstruksi perkerasan jalan sangat tergantung dari sifat-sifat dan daya dukung tanah dasar.

 

 

Umumnya persoalan yang menyangkut tanah dasar adalah sebagai berikut :

·         Perubahan bentuk tetap (deformasi permanen) akibat beban lalu lintas.

·         Sifat mengembang dan menyusutnya tanah akibat perubahan kadar air.

·         Daya dukung tanah yang tidak merata akibat adanya perbedaan sifat-sifat tanah pada lokasi yang berdekatan atau akibat kesalahan pelaksanaan misalnya kepadatan yang kurang baik.

·            Lapisan Tanah dasar (Subgrade)

 

2.     Lapisan Pondasi Bawah (Subbase Course)

          Lapisan ini berada dibawah lapisan pondasi atas dan diatas lapisan tanah dasar. Lapisan ini berfungsi untuk menyebarkan beban dari lapisan pondasi bawah ke lapisan tanah dasar, untuk menghemat penggunaan material yang digunakan pada lapisan pondasi atas, karena biasanya menggunakan material yang lebih murah. Selain itu lapisan pondasi bawah juga berfungsi untuk mencegah partikel halus masuk kedalam material perkerasan jalan dan melindungi air agar tidak masuk kelapisan dibawahnya.

 Lapis pondasi bawah ini berfungsi sebagai :

·      Bagian dari konstruksi perkerasan untuk menyebarkan beban roda ke tanah dasar.

·      Lapis peresapan, agar air tanah tidak berkumpul di pondasi.

·       Lapisan untuk mencegah partikel-partikel halus dari tanah dasar naik ke lapis pondasi atas.

·       Lapis pelindung lapisan tanah dasar dari beban roda-roda alat berat (akibat lemahnya daya dukung tanah dasar) pada awal-awal pelaksanaan pekerjaan.

·       Lapis pelindung lapisan tanah dasar dari pengaruh cuaca terutama hujan.

 

Jenis lapis pondasi bawah yang umum dipergunakan di Indonesia antara lain:

1.     Agregat bergradasi baik dapat dibagi:

-         Sirtu / pitrun kelas A

-         Sirtu / pitrun kelas B

-         Sirtu / pitrun kelas C

2.     Stabilitas

-         Stabilitas agregat dengan semen

-         Stabilitas agregat dengan kapur

-         Stabilitas tanah dengan semen

-         Stabilitas tanah dengan kapur.

 

3.     Lapisan pondasi atas (base course)

          Lapisan ini terletak dilapisan dibawah lapisan permukaan. Lapisan ini terutama berfungsi untuk menahan gaya lintang akibat beban roda dan menerus beban ke lapisan dibawahnya, sebagai bantalan untuk lapisan permukaan dan lapisan peresapan untuk lapisan pondasi bawah. Material yang digunakan untuk lapisan ini diharus material dengan kualitas yang tinggi sehingga kuat menahan beban yang direncanakan.

 

           Lapisan pondasi atas ini berfungsi sebagai :

·   Bagian perkerasan yang menahan gaya lintang dari beban roda dan menyebarkan beban ke lapisan di bawahnya.

·    Bantalan terhadap lapisan permukaan.

        Bahan-bahan untuk lapis pondasi atas ini harus cukup kuat dan awet sehingga dapat        menahan beban-beban roda.

    Dalam penentuan bahan lapis pondasi ini perlu dipertimbangkan beberapa hal antara lain, kecukupan bahan setempat, harga, volume pekerjaan dan jarak angkut bahan ke lapangan.

Jenis lapis pondasi atas yang umum dipergunakan di Indonesia antara lain:

1.     Agregat bergradasi baik dapat dibagi:

-  Batu pecah kelas A

-  Batu pecah kelas B

-  Batu pecah kelas C

2.     Pondasi Macadam

3.     Pondasi Telford

4.     Penetrasi Macadam (Lapen)

5.     Aspal buton pondasi (Asphalt Concrete Base / Asphalt Treated Base)

6.     Stabilitas terdiri atas :

-  Stabilitas agregat dengan semen

-  Stabilitas agregat dengan kapur

-  Stabilitas agregat dengan  aspal

 

4.     Lapisan Permukaan (Surface Course)

          Lapisan permukaan terletak paling atas pada suatu jalan raya. Lapisan yang biasanya kita pijak, atau lapisan yang bersentuhan langsung dengan ban kendaraan. Lapisan ini berfungsi sebagai penahan beban roda. Lapisan ini memiliki stabilitas yang tinggi, kedap air untuk melindungi lapisan dibawahnya sehingga air mengalir ke saluran di samping jalan,  tahan terhadap keausan akibat gesekan rem kendaraan, dan diperuntukkan untuk meneruskan beban kendaraan ke lapisan dibawahnya.

    Lapisan permukaan ini berfungsi sebagai :

      ·  Lapisan yang langsung menahan akibat beban roda kendaraan.

      ·  Lapisan yang langsung menahan gesekan akibat rem kendaraan (lapisaus).

      · Lapisan yang mencegah air hujan yang jatuh di atasnya tidak meresap ke lapisan  bawahnya dan melemahkan lapisan tersebut.

      ·   Lapisan yang menyebarkan beban ke lapisan bawah, sehingga dapat dipikul oleh lapisan di bawahnya.

          Apabila diperlukan, dapat juga dipasang suatu lapis penutup / lapis aus (wearing course) di atas lapis permukaan tersebut.

          Fungsi lapis aus ini adalah sebagai lapisan pelindung bagi lapis permukaan untuk mencegah masuknya air dan untuk memberikankekesatan (skid resistance) permukaan jalan. Apis aus tidak diperhitungkan ikut memikul beban lalu lintas.

 

Jenis lapis yang digunakan di Indonesia antara lain :

      Lapisan bersifat nonstructural, yang berfungsi sebagai lapisan aus dan kedap air antara lain:

      b. Burtu (laburan aspal satu lapis), merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapisan aspal   yang ditaburi dengan satu lapis agregat bergradasi seragam, dengan tebal maksimum 2 cm

      c. Burda (laburan aspal dua lapis), merupakan lapis penutup yang terdiri lapisan aspal   ditaburi agregat yang dilakukan dua kali berturut – turutdengan tebal maksimum3,5 cm

d. Latsir (Lapis Tipis Aspal Pasir), merupakan lapis penutup yang terdiri dari lapis aspal dan   pasir alam bergradasi menerus dicampur, dihampar dan dipadatkan pada suhu pada suhu  tertentudengan tebal padat 1- 2 cm

e. Buras (Laburan Aspal), merupakan lapisan penutup terdiri dari lapisan aspal taburan pasir dengan ukuran butir  maksimum 3/8 inch

f. Latasbum (Lapis tipis asbuton murni), merupakan lapisan penutup yang terdiri dari campuran asbuton dan bahan pelunak dengan perbandingan tertentu yang dicampur secara dingin dengan tebal padat maksimum 1 cm

g.  Lataston (lapis tipis aspal beton), dikenal dengan nama hot roll sheet (HRS).

Lapisan bersifat struktur, berfungsi sebagai lapisan yang menahan & menyebarkan beban roda

a.     Penetrasi Macadam ( lapen)

b.     Lasbutag

c.      Laston  

 

2.    Rigid pavement (Perkerasan Kaku)

 

          Perkerasan kakau/rigit adalah perkerasan yang menggunakan bahan ikat aspal, yang sifatnya kaku. Perkerasan kaku berupa plat beton dengan atau tanpa tulangan diatas tanah dasar dengan atau tanpa pondasi bawah. Beban lalu lintas diteruskan keatas plat beton. Perkerasan kaku bisa dikelompokkan atas:

1.   Perkerasan kaku semen yang terbuat dari beton semen baik yang bertulang ataupun tanpa tulangan

2.   Perkerasan kaku komposit yang terbuat dari komposit sehingga lebih kuat dari perkerasan semen, sehingga baik untuk digunakan pada landasan pesawat udara di Bandara.

          Perkerasan jalan beton semen atau secara umum disebut perkerasan kaku, terdiri atas plat (slab) beton semen sebagai lapis pondasi dan lapis pondasi bawah (bisa juga tidak ada) di atas tanah dasar. Dalam konstruksi perkerasan kaku, plat beton sering disebut sebagai lapis pondasi karena dimungkinkan masih adanya lapisan aspal beton di atasnya yang berfungsi sebagai lapis permukaan.

          Perkerasan beton yang kaku dan memiliki modulus elastisitas yang tinggi, akan mendistribusikan beban ke bidang tanah dasar yang cukup luas sehingga bagian terbesar dari kapasitas struktur perkerasan diperoleh dari plat beton sendiri. Hal ini berbeda dengan perkerasan lentur dimana kekuatan perkerasan diperoleh dari tebal lapis pondasi bawah, lapis pondasi dan lapis permukaan.

          Karena yang paling penting adalah mengetahui kapasitas struktur yang menanggung beban, maka faktor yang paling diperhatikan dalam perencanaan tebal perkerasan beton semen adalah kekuatan beton itu sendiri. Adanya beragam kekuatan dari tanah dasar dan atau pondasi hanya berpengaruh kecil terhadap kapasitas struktural perkerasannya.

          Lapis pondasi bawah jika digunakan di bawah plat beton karena beberapa pertimbangan, yaitu antara lain untuk menghindari terjadinya pumping, kendali terhadap sistem drainasi, kendali terhadap kembang-susut yang terjadi pada tanah dasar dan untuk menyediakan lantai kerja (working platform) untuk pekerjaan konstruksi.

 Secara lebih spesifik, fungsi dari lapis pondasi bawah adalah :

· Menyediakan lapisan yang seragam, stabil dan permanen.

· Menaikkan harga modulus reaksi tanah dasar (modulus of sub-grade reaction = k), menjadi modulus reaksi gabungan (modulus of composite reaction).

·   Mengurangi kemungkinan terjadinya retak-retak pada plat beton.

·   Menyediakan lantai kerja bagi alat-alat berat selama masa konstruksi.

·  Menghindari terjadinya pumping, yaitu keluarnya butir-butiran halus tanah bersama air pada daerah sambungan, retakan atau pada bagian pinggir perkerasan, akibat lendutan atau gerakan vertikal plat beton karena beban lalu lintas, setelah adanya air bebas terakumulasi di bawah pelat.

          Pemilihan penggunaan jenis perkerasan kaku dibandingkan dengan perkerasan lentur yang sudah lama dikenal dan lebih sering digunakan, dilakukan berdasarkan keuntungan dan kerugian masing-masing jenis perkerasan tersebut. 

 

Dokumentasi

 

 

 

 

 

 

 

 


                                                                                            

 

 

 

 

 

 

 


                                              

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                         

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


                                                                                         

Comments

Popular posts from this blog

Laporan Praktek Plumbing (Instalasi Pendek) Politeknik Negeri Malang

  DAFTAR PERALATAN   1.       Nama alat   : Gergaji Sengkang ( hacksaw ) Fungsi        : Untuk memotong pipa Gambar      :       2.       Nama alat   : Pipe cutter Fungsi        : Untuk memotong pipa Gambar      :       3.       Nama alat   : Buring Reammer Fungsi        : Untuk merapikan atau melebarkan lubang pipa Gambar      :           4.         Nama alat : Pipe threading machine Fungsi        : Untuk memotong, megulir,merapikan pipa Gambar     :               5.       Nama alat  ...

laporan praktik batu politeknik negeri malang

  KATA PENGANTAR   Puji syukur kami panjatkan kehadihat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya, Sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktikum ini dengan sebaik-baiknya. Penulisan Laporan Praktikum ini merupakan salah satu Persyaratan dalam praktikum mata kuliah Pekerjaan Batu, d alam Penulisan Laporan ini Penulis merasa masih banyak kekurangan -kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi yang di sajikan. Untuk itu Penulis mengharapkan adanya kritik dan saran dari semua pihak agar Penulis dapat lebih sempurna dalam membuat Laporan ini. Semoga Laporan yang Penulis susun ini dapat bermanfaat bagi kita semua .Amin.                      Malang , 06 Juni 201 8    Penulis,         BAGUS PRASETYA           DAFTAR ISI Lembar Pengesahan ........................

laporan praktek drainase politeknik negeri malang

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktikum Kerja Drainase dengan baik dan lancar. Adapun tujuan dari penyusunan laporan ini adalah sebagai kelengkapan kegiatan praktikum   yang telah terlaksana serta untuk menunjang nilai dan mata kuliah, terutama praktek drainase. Tak lupa ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam proses dan kelancaran dalam praktikum dan pembuatan laporan ini, terutama kepada ibu Winda Harsanti, ST., MT   yang telah mendampingi, dan membimbing kami selama praktek dan juga teman-teman kelas 2MRK7 yang telah memberi semangat pada saat praktek hingga laporan ini selesai. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari laporan ini, baik dari materi maupun teknik penyajiannya, mengingat kurangnya pengetahuan dan pengalaman penulis. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan. Mala...